Sabtu, 19 September 2026

Breaking News

  • Jejak Nihil Rombongan Jurnalis di Selat Sunda, Waketum IMO-Indonesia Soroti Kinerja Andra Soni hingga Pigai   ●   
  • LESBUGA MENGGELAR AUDENSI DENGAN PEMERINTAH KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR TERKAIT KEGIATAN FESTIVAL TARI RATOH JAROE   ●   
  • Surat Tahun 1986 Diabaikan, S. Hondro : Pertanyakan Proses Verifikasi Ganti Rugi Tol Pekanbaru–Rengat   ●   
  • Karhutla di Salo Kampar Berhasil Dikendalikan, TNI Kerahkan Pasukan Gabungan   ●   
  • Pelapor dan Tersangka Berdamai, Mirwansyah Apresiasi Penyidik Polresta Pekanbaru   ●   
Gagal Lolos SPMB, Kisah Pilu Keluarga Buruh Angkut di Pekanbaru Harapkan Perhatian Pemerintah
Sabtu 20 Juni 2026, 20:13 WIB

PEKANBARU –SuaraHebat.com_-Penutupan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Provinsi Riau Tahun Ajaran 2026/2027 pada Jumat (19/6/2026) masih menyisakan kisah pilu bagi sejumlah keluarga kurang mampu. Di balik berakhirnya proses penerimaan siswa baru tersebut, masih ada anak-anak yang harus menerima kenyataan tidak berhasil memperoleh kursi di sekolah negeri meski memiliki semangat besar untuk melanjutkan pendidikan.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan pendidikan masyarakat, LintasRiauNews.com bersama Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya (DPC GRIB Jaya) Kota Pekanbaru turun langsung meninjau kondisi keluarga Ayla Azzuhra Balqis di RW 05 Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Pekanbaru Kota.

Ayla merupakan putri pasangan Abdul Manan dan Nurhalizah yang dinyatakan tidak diterima di SMK Negeri 3 Pekanbaru pada pelaksanaan SPMB 2026. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi keluarga sekaligus memastikan fakta yang terjadi di lapangan.

Di rumah sederhana yang berada di kawasan padat penduduk itu, Ayla tinggal bersama kedua orang tuanya dan seorang saudara. Bangunan yang sebagian besar masih semi permanen menjadi gambaran kehidupan keluarga yang selama ini bertahan di tengah keterbatasan ekonomi.

Nurhalizah mengaku telah berupaya semaksimal mungkin agar putrinya dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah negeri. Namun persaingan yang ketat membuat harapan tersebut belum terwujud.

"Sudah tiga kali mencoba, tetapi belum berhasil. Katanya karena nilai yang bersaing cukup tinggi," ujar Nurhalizah dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Abdul Manan sehari-hari bekerja sebagai buruh angkut di Pasar Sukaramai dengan penghasilan yang tidak menentu. Jika sedang ramai, ia bisa membawa pulang uang untuk kebutuhan keluarga. Namun tidak jarang ia pulang dengan penghasilan yang sangat minim.

Untuk membantu ekonomi keluarga, Nurhalizah juga bekerja membuat kerupuk jengkol dengan upah yang relatif kecil. Dalam kesehariannya, Ayla turut membantu sang ibu mengerjakan pesanan kerupuk demi meringankan beban keluarga.

Kondisi ekonomi keluarga tersebut terlihat jelas dari tempat tinggal mereka yang sederhana. Bahkan rumah yang mereka tempati hanya memiliki satu kamar yang digunakan bersama seluruh anggota keluarga.

Ironisnya, di tengah keterbatasan ekonomi yang nyata tersebut, keluarga Ayla belum memiliki dokumen administrasi yang menjadi syarat untuk memperoleh berbagai program afirmasi bagi masyarakat kurang mampu. Akibatnya, kondisi ekonomi yang mereka alami belum sepenuhnya tercermin dalam data administrasi yang menjadi dasar berbagai kebijakan bantuan.

Kisah Ayla menjadi potret bahwa masih terdapat keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi namun belum seluruhnya terjangkau oleh sistem pendataan sosial. Padahal secara faktual, kondisi yang mereka hadapi sehari-hari menunjukkan perlunya perhatian dan pendampingan dari pemerintah.

Saat meninjau lokasi, perwakilan DPC GRIB Jaya Kota Pekanbaru menilai bahwa persoalan pendidikan tidak semata-mata dilihat dari kelengkapan administrasi, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi riil masyarakat di lapangan.

Menurut mereka, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan, terutama bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, serta pemerintah daerah setempat dapat melakukan pendataan yang lebih menyeluruh terhadap warga yang benar-benar membutuhkan bantuan pendidikan. Dengan demikian, anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan hanya karena terkendala administrasi.

Harapan tersebut sejalan dengan semangat Peraturan Gubernur Riau Nomor 26 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Wajib Belajar pada Satuan Pendidikan Menengah, yang bertujuan memastikan seluruh anak usia sekolah memperoleh akses pendidikan yang layak.

Kisah Ayla bukan sekadar tentang seorang siswa yang belum berhasil diterima di sekolah negeri. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka penerimaan peserta didik, terdapat keluarga yang berjuang keras demi masa depan anak-anaknya.

SPMB 2026 memang telah berakhir. Namun bagi Ayla dan keluarganya, perjuangan untuk memperoleh pendidikan masih terus berlanjut. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya berharap agar kesempatan untuk melanjutkan sekolah tetap terbuka, sehingga cita-cita seorang anak buruh angkut Pasar Sukaramai tidak berhenti di tengah jalan karena keterbatasan ekonomi.

Red/Seprinaldi




Untuk saran dan pemberian informasi kepada redaksi suarahebat.com, silakan kontak ke email: [email protected]


Komentar Anda


Berita Pilihan
Surat Tahun 1986 Diabaikan, S. Hondro : Pertanyakan Proses Verifikasi Ganti Rugi Tol Pekanbaru–Rengat

KUA-PPAS APBD Perubahan 2026 Pekanbaru Sudah Diserahkan ke DPRD, Pembahasan Dikejar Sebelum 30 September

Hakim PN Pekanbaru Turun ke Lokasi, Kuasa Hukum Firdinan: Dasar Kepemilikan Klien Kami Sudah Ada Sejak 1986

Kontrak Mitra Baru Dipersoalkan, PHR dan Vendor Berbeda Keterangan Soal Batas Usia 56 Tahun

SKT Firdinan Terbit 1985 VS SHM 2017, Kejanggalan Data Pertanahan Dipertanyakan — Presiden Prabowo dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Diminta Turun Tangan

Syahrul Aidi Dorong Penguatan Profesi Jurnalis di Tengah Ledakan AI dan Media Sosial

Waspada! Nama Pejabat Kejati Riau Dicatut untuk Penipuan, Zikrullah Minta Warga Jangan Mudah Percaya

Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat, Pemko Pekanbaru Kembali Terapkan PJJ 16 Sampai 18 September

Anggaran Angkutan Sampah DLHK Pekanbaru Disebut Capai Rp 29,4 Miliar, Dugaan Markup dan Armada Fiktif Disorot

Zulhelmi Arifin Jadi Sekda Pekanbaru, Rekam Jejak dan Sejumlah Dugaan Kasus Kembali Disorot

Copyright © 2026 Suarahebat.com - All Rights Reserved
Scroll to top