Sabtu, 19 September 2026

Breaking News

  • Jejak Nihil Rombongan Jurnalis di Selat Sunda, Waketum IMO-Indonesia Soroti Kinerja Andra Soni hingga Pigai   ●   
  • LESBUGA MENGGELAR AUDENSI DENGAN PEMERINTAH KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR TERKAIT KEGIATAN FESTIVAL TARI RATOH JAROE   ●   
  • Surat Tahun 1986 Diabaikan, S. Hondro : Pertanyakan Proses Verifikasi Ganti Rugi Tol Pekanbaru–Rengat   ●   
  • Karhutla di Salo Kampar Berhasil Dikendalikan, TNI Kerahkan Pasukan Gabungan   ●   
  • Pelapor dan Tersangka Berdamai, Mirwansyah Apresiasi Penyidik Polresta Pekanbaru   ●   
Diduga Tampung Sawit dari Kawasan Terlarang, RAMP KITA di Kuansing Disorot — Aparat Diminta Bertindak Tegas
Minggu 29 Maret 2026, 10:01 WIB

KUANTAN SINGINGI – Praktik bisnis peron atau loading ramp kelapa sawit kembali menjadi sorotan. Kali ini, sebuah peron bernama RAMP KITA yang beroperasi di Desa Situgal, Kecamatan Logas Tanah Darat (LTD), Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau diduga menerima tandan buah segar (TBS) dari kawasan terlarang, termasuk kawasan hutan konservasi.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, peron tersebut dimiliki oleh seorang bernama Fitriadi, yang disebut-sebut merupakan warga Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir dan berdomisili di Teluk Kuantan. Yang bersangkutan bahkan dikabarkan mengaku "diback-up" oleh oknum dari GRIB Jaya Kuansing bernama Sam, Minggu (29/03/26).

Namun, upaya konfirmasi yang dilakukan kepada Fitriadi melalui pesan WhatsApp justru berujung buntu. Nomor wartawan dilaporkan diblokir tanpa klarifikasi, memunculkan tanda tanya besar sekaligus memperkuat dugaan adanya praktik yang tidak transparan.

Aktivitas peron sawit seperti RAMP KITA sejatinya memiliki posisi krusial dalam rantai distribusi TBS. Namun, ketika peron diduga menjadi “penadah” buah dari kawasan terlarang, maka perannya berubah menjadi bagian dari mata rantai kejahatan lingkungan.

Jika benar TBS yang diterima berasal dari kawasan hutan konservasi atau kawasan tanpa izin, maka praktik ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga berkontribusi terhadap perusakan lingkungan secara sistematis.

Dasar Dugaan Pelanggaran Hukum

Sejumlah regulasi yang berpotensi dilanggar dalam kasus ini antara lain:

1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan

Pasal 12 huruf e dan f: Melarang menerima, membeli, atau menjual hasil hutan yang diketahui berasal dari kawasan hutan yang diambil secara ilegal.

Ancaman pidana: Penjara hingga 15 tahun dan denda hingga Rp100 miliar.

2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan

Pasal 50 ayat (3): Melarang setiap orang melakukan kegiatan yang mengakibatkan kerusakan hutan tanpa izin. (Termasuk pengangkutan dan perdagangan hasil hutan ilegal).

3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan

Pasal 92: Setiap pelaku usaha dilarang menerima hasil perkebunan dari lahan yang tidak memiliki legalitas. (Sanksi pidana dan administratif dapat dikenakan).

4. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

Pasal 480: Tentang penadahan barang hasil kejahatan. (Peron yang menerima TBS ilegal dapat dikategorikan sebagai penadah).

Masyarakat mendesak aparat penegak hukum di Kuantan Singingi untuk segera turun tangan dan melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap operasional RAMP KITA.

Jika dugaan ini dibiarkan, bukan hanya merusak ekosistem hutan yang sudah kritis, tetapi juga menciptakan preseden buruk bagi penegakan hukum di sektor kehutanan dan perkebunan.

Lebih jauh, klaim keterkaitan dengan organisasi masyarakat (ormas) tertentu juga harus ditelusuri secara serius agar tidak mencoreng nama lembaga dan mencegah adanya “tameng” kekuasaan dalam praktik ilegal.

Kasus ini menjadi ujian nyata bagi komitmen aparat dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Publik menanti, apakah hukum akan benar-benar ditegakkan, atau kembali kalah oleh kepentingan dan kekuasaan di lapangan.

Penegakan hukum tidak boleh kompromi terhadap kejahatan lingkungan. Jika dugaan ini benar, maka RAMP KITA bukan sekadar peron sawit—melainkan bagian dari jaringan perusakan hutan yang harus segera dihentikan.*jhn

 

 




Untuk saran dan pemberian informasi kepada redaksi suarahebat.com, silakan kontak ke email: [email protected]


Komentar Anda


Berita Pilihan
Surat Tahun 1986 Diabaikan, S. Hondro : Pertanyakan Proses Verifikasi Ganti Rugi Tol Pekanbaru–Rengat

KUA-PPAS APBD Perubahan 2026 Pekanbaru Sudah Diserahkan ke DPRD, Pembahasan Dikejar Sebelum 30 September

Hakim PN Pekanbaru Turun ke Lokasi, Kuasa Hukum Firdinan: Dasar Kepemilikan Klien Kami Sudah Ada Sejak 1986

Kontrak Mitra Baru Dipersoalkan, PHR dan Vendor Berbeda Keterangan Soal Batas Usia 56 Tahun

SKT Firdinan Terbit 1985 VS SHM 2017, Kejanggalan Data Pertanahan Dipertanyakan — Presiden Prabowo dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Diminta Turun Tangan

Syahrul Aidi Dorong Penguatan Profesi Jurnalis di Tengah Ledakan AI dan Media Sosial

Waspada! Nama Pejabat Kejati Riau Dicatut untuk Penipuan, Zikrullah Minta Warga Jangan Mudah Percaya

Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat, Pemko Pekanbaru Kembali Terapkan PJJ 16 Sampai 18 September

Anggaran Angkutan Sampah DLHK Pekanbaru Disebut Capai Rp 29,4 Miliar, Dugaan Markup dan Armada Fiktif Disorot

Zulhelmi Arifin Jadi Sekda Pekanbaru, Rekam Jejak dan Sejumlah Dugaan Kasus Kembali Disorot

Copyright © 2026 Suarahebat.com - All Rights Reserved
Scroll to top