PEKANBARU — Praktik perjudian skala besar bertajuk “BIG GAME – VALLA’S ARENA” di kawasan Palas, Kelurahan Maharani, Kecamatan Rumbai Barat, kian menjadi sorotan publik. Aktivitas yang diduga berlangsung secara terorganisir ini dinilai sebagai ujian serius bagi integritas aparat penegak hukum di Provinsi Riau.
Hasil investigasi tim awak media mengungkap fakta mencengangkan. Pada puncak kegiatan yang dikemas sebagai “festival”, Minggu (05/04/2026) malam, terjadi ketegangan serius berupa adu mulut antar pemain taruhan yang nyaris berujung kerusuhan massal. Situasi tersebut memperlihatkan potensi konflik terbuka yang sewaktu-waktu dapat meledak, di tengah dugaan pembiaran aparat yang dinilai sistematis.
Penelusuran di titik koordinat 0.579450, 101.378030 menemukan bahwa arena perjudian ini beroperasi tersembunyi di tengah perkebunan kelapa sawit dengan sistem pengamanan berlapis dan pagar tinggi. Meski demikian, aktivitas di dalamnya disebut berlangsung terbuka dan masif, dengan estimasi omzet mencapai Rp500 juta hingga Rp1 miliar dalam satu malam.
Modus operandi yang digunakan terbilang rapi. Penyelenggara menyamarkan praktik perjudian dengan label “event berhadiah”, menghadirkan hadiah seperti sepeda motor Honda Beat dan berbagai barang elektronik. Namun fakta di lapangan menunjukkan adanya praktik perjudian kelas kakap, mulai dari sabung ayam sistem “bebas timpa”, judi dadu, hingga permainan kartu dengan nilai taruhan tinggi tanpa batas.
Lebih mengkhawatirkan, hasil investigasi mengindikasikan adanya dugaan keterlibatan oknum aparat sebagai pengaman internal. Oknum yang disebut-sebut berasal dari satuan militer di lingkungan Lanud Roesmin Nurjadin diduga berada di lingkar pengamanan inti (ring satu). Kehadiran mereka disinyalir bukan hanya sebagai penjaga, tetapi juga menciptakan efek gentar yang membuat aparat penegak hukum setempat tidak berani bertindak.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar terhadap kinerja aparat di wilayah hukum Polsek Rumbai Barat dan Satreskrim Polresta Pekanbaru yang hingga kini belum menunjukkan langkah penindakan tegas.
Saat dikonfirmasi, Kapolsek Rumbai Barat, AKP. Rejoice Benedicto Manalu memberikan pernyataan singkat:
“Sebagaimana yang sudah bapak tuangkan di dalam narasi bapak, kami rasa kami kurang berkompeten untuk memberikan tanggapan.”
Jawaban tersebut justru menimbulkan pertanyaan lanjutan terkait komitmen dan kewenangan aparat dalam merespons dugaan aktivitas ilegal berskala besar di wilayah hukumnya, Kamis (09/04/26).
Dari hasil pendalaman, dua nama mencuat sebagai aktor kunci di balik operasional arena tersebut, yakni IRVAN yang diduga sebagai pemodal utama dan OKI sebagai koordinator lapangan. Keduanya disebut mengendalikan seluruh sistem, mulai dari distribusi taruhan hingga pengaturan jadwal pertandingan yang berlangsung rutin setiap akhir pekan hingga dini hari.
Insiden cekcok antar pemain yang terjadi baru-baru ini menjadi indikator kuat bahwa lokasi tersebut merupakan bom waktu gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang berpotensi memicu konflik sosial lebih luas.
Secara hukum, praktik ini diduga memenuhi unsur pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 303 ayat (1) KUHP tentang perjudian, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. Selain itu, aliran dana dari aktivitas tersebut juga berpotensi dijerat dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
Apabila dugaan keterlibatan oknum militer terbukti, maka hal tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap disiplin militer dan ketentuan dalam KUHPM Pasal 126, yang dapat berujung pada sanksi berat hingga Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH).
Publik kini menanti langkah konkret dari pimpinan institusi. Kapolda Riau dan Danlanud Roesmin Nurjadin didesak untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh, penindakan tegas, serta pembersihan internal terhadap oknum yang terlibat.
Langkah cepat dan transparan dinilai menjadi kunci untuk menjaga marwah hukum serta memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum.
Jika tidak segera ditindak, keberadaan “Valla’s Arena” dikhawatirkan akan terus berkembang menjadi pusat perjudian terbesar di Riau yang seolah kebal hukum—sekaligus menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia.***
Tekanan Publik Memuncak! Izin HGU hingga Status Kawasan Hutan PT Tumpuan Mandau Dipertanyakan
Perintah Presiden Prabowo Seolah Tak Digubris, Mafia Perkebunan Sawit Lebih Berkuasa ?
KPK Kepung Elite DPRD Riau, Dua Pimpinan Diduga Terseret Skema Permainan Anggaran
Skandal Rokok Ilegal Pekanbaru: Rp 399 Miliar Disita, Tersangka Tak Ada
Pengurus GRIB JAYA Riau Sambut Terpilihnya Martin Purba dalam Acara Buka Bersama
Aroma Main Mata di Balik KSO PT APN: Korporasi Bermasalah Bangkit Lagi, Siapa Bermain?
Forkopimda Diduga Dilecehkan, Eks PT. DMMP Kembali Berebut Kelola: Negara Konsisten atau Kompromi?
Diduga Tetap Panen di Lahan Sitaan Satgas PKH, PT DMMP Dinilai Menantang Hukum dan Abaikan Perpres 5 Tahun 2025
YSAR Laporkan Dugaan Perkebunan Sawit Ilegal di Kawasan Hutan Ke Kejati Riau, Desak Penindakan Tegas PT DMMP
Persiapan Pelantikan DPD SP Perisai Pancasila Kota Pekanbaru Telah Selesai Dilaksanakan
Ketua Umum FPKB Sindir Keras Demo Sepi Pendukung: “Lebih Baik Bikin Kegiatan Bermanfaat dari pada Hanya cari sensasi
Ida Yulita Diduga Rugikan Negara Rp704,9 Juta, GEMMPAR Siap Gelar Aksi di Depan Kajari
UMKM FPKB adakan lomba kuliner khas Melayu dengan hadiah puluhan juta
Semarak HBP ke-62, Lapas Narkotika Rumbai Tampil Aktif di Bazar UMKM UPT se-Riau
Omzet Fantastis Capai Rp1 Miliar/Malam, Dugaan Keterlibatan Oknum Aparat Jadi Sorotan — Ancaman Serius Kamtibmas di Pekanbaru
Jeritan Ibu-Ibu di Ujungbatu: Judi Gelper Tembak Ikan Merajalela, Polisi Jangan Tutup Mata!
Semarak HBP ke-62, Lapas Pekanbaru Tampilkan Produk Unggulan Warga Binaan di Bazaar Pemasyarakatan
